GONGSUMBA.COM – Kepala SMA Thomas Aquinas Waitabula Fr.Ulbaldus,BHK.Saat ditemui di ruangan(14/4/2026)memberikan penjelasan terkait pelaksanaan ujian manual menggunakan kertas bagi siswa kelas XII saat diwawancarai Pimpinan Umum Gong Sumba,Pasolapos,dan Likkuaba.
Fr.Ulbaldus menyampaikan bahwa di tengah perkembangan digitalisasi pendidikan, sekolah tetap mempertahankan sistem ujian manual sebagai bagian dari proses evaluasi belajar siswa.
“Memang sekarang kita berada di era digital, di mana ujian sudah bisa dilakukan secara online. Tetapi kami masih menerapkan ujian manual karena memiliki nilai tersendiri dalam proses pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, ujian manual tidak hanya berfungsi untuk mengukur kemampuan akademik siswa, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter.
“Ujian manual melatih siswa untuk lebih disiplin, jujur, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam ujian manual, siswa dituntut untuk mengandalkan kemampuan sendiri tanpa bantuan teknologi.
“Dengan sistem kertas, siswa belajar mengandalkan kemampuan diri sendiri dan lebih teliti dalam menjawab soal,” katanya.
Selain itu, ia menilai bahwa ujian manual mampu meningkatkan fokus siswa selama proses ujian berlangsung.
“Kalau manual, siswa benar-benar fokus. Tidak ada distraksi dari perangkat lain seperti saat menggunakan sistem online,” tambahnya.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa sistem ujian berbasis digital memiliki sejumlah keunggulan, terutama dari segi efisiensi.
“Ujian online memang lebih praktis dan cepat, baik dalam pelaksanaan maupun dalam proses penilaian,” ungkapnya.
Namun demikian, ia menilai bahwa tidak semua sekolah memiliki kesiapan fasilitas untuk menerapkan ujian berbasis digital secara maksimal.
“Kita juga harus melihat kondisi di lapangan. Tidak semua sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk ujian online,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keputusan menggunakan ujian manual merupakan hasil pertimbangan bersama pihak sekolah.
“Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, tetapi melalui kesepakatan bersama demi kepentingan siswa,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pelaksanaan ujian manual juga menuntut kesiapan guru dalam proses pembelajaran.
“Guru harus lebih maksimal dalam mempersiapkan materi, menyusun soal, dan melakukan evaluasi,” katanya.
Menurutnya, hal tersebut justru menjadi tantangan positif bagi tenaga pendidik untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
“Ini menjadi tantangan bagi guru untuk bekerja lebih baik dan lebih profesional,” lanjutnya.
Ia juga menyampaikan bahwa sekolah tetap terbuka terhadap perkembangan teknologi di masa depan.
“Kami tidak menutup diri terhadap digitalisasi. Ke depan tentu akan ada penyesuaian sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa penerapan teknologi harus tetap memperhatikan aspek karakter siswa.
“Teknologi penting, tetapi pembentukan karakter tetap menjadi prioritas utama dalam pendidikan,” katanya.
Dengan pelaksanaan ujian manual ini, diharapkan siswa kelas XII dapat lebih siap menghadapi ujian, baik dari segi akademik maupun mental.***






