Refleksi Lunturnya Etika dan Nilai Luhur.”Arti Sebuah Rumah Besar”Kehilangan Penghuni. (Dulu,Sekarang dan Masa Akan Datang)

GAYA HIDUP134 Dilihat

Opini:Paulus Malo Ngongo.Pemred Pasolapos.Com,Pemred Gongsumba.Com, Likkuaba.Com.

Falsafah lama sering menggambarkan bangsa atau masyarakat kita sebagai sebuah “Rumah Besar”. Sebuah tempat di mana fondasinya adalah gotong royong, tiangnya adalah sopan santun, dan atapnya adalah rasa saling menghormati. Namun hari ini, kita mendapati sebuah realitas yang getir: rumah besar itu masih berdiri megah secara fisik, tetapi tidak ada lagi yang memanfaatkan nilai-nilai luhur di dalamnya.

Secara kasat mata, kita melihat modernisasi dan kemajuan. Namun secara rasa, kita sedang menyaksikan keroposnya sendi-sendi etika dalam masyarakat.

Makna “Rumah Besar” yang Ditinggalkan
Dalam konteks budaya,”Rumah Besar”adalah simbol dari warisan kolektif leluhur—seperti etika (*unggah-ungguh*), tepo seliro (tenggang rasa), kesantunan berbahasa, dan hukum adat yang tidak tertulis.
Ketika dikatakan”tidak ada lagi yang memanfaatkan”, artinya nilai-nilai tersebut kini Hanya menjadi pajangan masa lalu. Kita bangga mengaku sebagai bangsa yang ramah, namun di media sosial dan ruang publik, caci maki serta hilangnya empati justru menjadi tontonan sehari-hari. Nilai luhur tidak lagi dipraktikkan sebagai pemandu perilaku, melainkan hanya dianggap sebagai dongeng pengantar tidur atau materi hafalan di sekolah.

Mengapa Etika Masyarakat Kita Meluntur?
Ada beberapa faktor krusial yang menyebabkan “ruang etika” di rumah besar kita kian menyusut:Pergeseran Individualisme: Budaya komunal (kebersamaan) kini tergerus oleh egosentrisme. Orang lebih peduli pada “aku” daripada “kita”.

Digitalisasi Tanpa Literasi Budaya:Kecepatan teknologi tidak diimbangi dengan kematangan emosional. Akibatnya, batas-batas kesopanan kabur di balik layar gawai.

Krisis Keteladanan:Ruang publik kita kering akan terciptanya figur yang mampu mencontohkan etika luhur. Ketika elite dan tokoh masyarakat kerap mempertontonkan keangkuhan, masyarakat bawah pun kehilangan kompas moral.

Dampak yang Mulai Terasa
Jika rumah besar ini terus dibiarkan kosong tanpa ruh nilai luhur, kita sedang menuju kebangkrutan moral. Beberapa dampaknya sudah terpampang nyata:

1.Hilangnya Rasa Tabu: Hal-hal yang dulunya dianggap memalukan (seperti tidak jujur, memfitnah, atau merundung orang lain) kini dianggap biasa, bahkan terkadang viral dan dibanggakan.

2.Krisis Kepercayaan (Distrust*):Ketika etika luntur, rasa saling percaya antarkerabat, tetangga, hingga warga negara ikut menguap, digantikan oleh rasa curiga.

Catatan Kritis:”Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari tingginya gedung pencakar langit atau cepatnya koneksi internet, melainkan dari seberapa tinggi mereka menjunjung martabat kemanusiaan dan etika bermasyarakat.”

Kembali Mengisi “Rumah Besar”
Melestarikan budaya bukan sekadar memakai baju adat saat upacara atau menampilkan tarian tradisional di festival. Esensi kebudayaan yang sesungguhnya adalah “menghidupkan kembali etika yang mulai mati.”
Kita perlu kembali memanfaatkan ruang-ruang di rumah besar kita. Memulai kembali dari unit terkecil: keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar. Mengajarkan kembali bahwa menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan menjaga lisan bukan sekadar formalitas kuno, melainkan fondasi utama agar peradaban kita tidak runtuh dari dalam.

Sudah saatnya kita pulang ke “Rumah Besar” itu, bukan untuk sekadar mengagumi arsitekturnya, tetapi untuk kembali hidup di dalamnya dengan merawat etika yang menjadi jiwa besar.
(Semoga Tulisan ini menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *